EndangKusman.Com

Blogging, Belajar Nge-Blog & Berbagi Info

Meninggalkan Warisan Kepemimpinan

Mewariskan Kepemimpinan

BAIK sebagai manusia biasa maupun pemimpin sebuah organisasi, pernahkah Anda memikirkan kenangan apa yang ingin kita wariskan kapada orang-orang di sekitar.  Apa yang akan dikatakan orang lain setalah kita tidak lagi ada di sekitar mereka?
Satu hal yang pasti adalah yang akan diingat oleh orang lain tentang ciri kita bukanlah prestasi yang dicapai untuk diri sandiri, melainkan apa yang sudah kita lakukan untuk membantu orang lain untuk berkembang. Bukan seberapa besar dan tinggi rumah yang kita bangun, melainkan seberapa banyak orang yang merasakan kehangatan suasana di rumah kita. Bukan seberapa besar organisasi yang kita kembangkan, tetapi seberapa banyak kita mempersiapkan.

Orang-orang untuk menangani organisasi itu setelah kita meninggalkannya. The Law of Legacy (Hukum Warisan) adalah hukum kepemimpinan terakhir yang dialukan oleh John Maxwell dalam
buku nya The 21 Irefutable Laws of Leadership. Nilai yang ditinggalkan oleh seorang pemimpin diukur berdasarkan seberapa siapnya generasi berikutnya meneruskan tingkat kepemimpinan. Seoerang pemimpin yang tidak mampu mempersiapkan suksesi kepemimpinan itulah yang menyebabkan timbulnya pmeo, “Generasi pertama mendirikan. Generasi kedua membesarkan.
Generasi ketiga meruntuhkan.” Untuk menghidupi The Law of Legacy, ada empat hal yang dapat kita lakukan, sebagai berikut :

  1. Pahamilah warisan apa yang ingin Anda tinggatkan. Banyak orang sekedar menjalani hidup, tanpa mengetahui arah yang ingin mereka tuju. Untuk menjadi saorang pemimpin yang meninggalkan warisan yang nidup, kita perlu memahami dan sekarang apa yang kita inginkan untuk dikatakan oleh orang-orang lain setelah kita meninggalkan mereka.
  2. Hidupkan sesuai dengan warisan yang ingin kita tinggalkan. Jika ingin meninggalkan suatu  warisan, Anda perlu menghidupinya terlebih dahulu. Tindakan dan perkataan kita setiap hari sabagai seorang pemimpin, itulan tinta yang menuilskan kenangan tentang hidup kita di dalam hati orang-orang di sekitar. Kenangan apa yang ingin Anda ciptakan, semua terserah Anda. Hidupkan sesuai dengan kenangan yang ingin Anda ciptakan satiap hari.
  3. Pilihlah orang-orang yang akan meneruskan tongkat kepemimpinan. Warisan yang Anda tinggalkan bukan hanya harta benda, melainkan yang lebih berarti adalah generasi penerus yang siap untuk menggantikan Anda dan membawa organisasi mengnadapi berbagai tantangan yang baru. Pilih orang-orang yang akan Anda siapkan dan investasikan diri Anda untuk mengembangkan mereka.
  4. Pastikan Anda meyerahkan tongkat kepemimpinan kepada mereka. Seberapa baiknya memimpin, jika tidak menyerahkan tongkat kepemimpinan, Anda tidak akan dapat meninggalkan warisan yang diharapkan.

Unsur utama dari keempat tindakan untuk mewariskan kepemirnpinan di atas adalah menjadi seorang mentor yang membirnbing orang-orang di sekitar Anda untuk rnembawa organisasi ke masa depan yang lebih baik. Selain itu, ditarnban dengan keahlian untuk memberikan kesempatan kepada orang-orang terbaik untuk memirnpin.
Seperti apa yang disampaikan oleh Warren Buffet dengan pernyataannya bahwa ·“Kita dapat berteduh hari ini karena ada orang lain yang rnenanam pohon itu lama sebelunya”.  Warren Buffet rnenjadi seperti dirinya pada hari ini karena ia telah mendapatkan seorang mentor yang tepat, yaitu Benjamin Graham, yang dijuluki sebagai “The Dean of Wail Street? 
Setelah mengikuti kuliah yang diajarkan Benjamin Graham di Columbia University, Warren Buffet memulai kariernya dengan bekerja di perusahaan investasi milik dosennya itu dan selebihnya adalah sejarah di bidang investasi.
Jadi, siapkah para pemimpin menjadi mentor sekaligus mewariskan kepemimpinannya?

By: Daniel Wirajaya [Vice President Product Development of Lutan Edukasi][kompas 7uli 2012]

Updated: 08/07/2012 — 11:25 am
EndangKusman.Com © 2015 - Contact - Privacy - Disclaimer - Sitemap Frontier Theme